luas tak terbatas

November 7th, 2008 by joschen

apapun yang kau pikirkan, kalimat tertahan dari hati dan bibirmu, apapun resikonya, katakan sebelum terlambat. ketika datang senja mengganti terang, kau tak lagi terlihat, yang ada hanya bayangmu yang kian memudar di balik air mataku. dan walaupun terkadang bayangmu masih saja kucari,  kau tetap sudah tak terlihat..tak terjangkau. semuanya adalah indah. semuanya adalah baik. terima kasih atas senyummu, dan terlebih hatimu.

bitterness

October 22nd, 2008 by joschen

bitterness..o when will you go away?

sistostomi

July 31st, 2008 by joschen

Tuesday, July 29, 2008

Hampir satu minggu setelah Komang ijin pelatihan ke Denpasar dan aku mesti (red:ikhlas kok) bantu merawat pasien bedah di bangsal dan siang melayani pasien di poli bedah. Badanku rontok juga… Agus, residen bedah, selalu melihat pasien pagi-pagi, membuat aku tidak enak hati karena datang lebih terlambat dari dirinya hehehe..ikut ke kamar operasi untuk belajar appendektomi, malahan pikiranku terpecah karena telepon dari perawat poli mengabarkan pasien sudah menumpuk dan menungguku datang. Jadilah appendiks yang (ternyata) sudah menjadi PAI itu gagal kuangkat karena rasa percaya diri yang tiba-tiba meluntur. Jam di kamar operasi sudah menunjukkan pukul 12, rasa-rasanya instrumen dan anestesi sudah tidak sabar untuk segera tutup kulit. Dengan rasa bersalah dan rasa bodoh yang luar biasa, akhirnya aku pamit mundur untuk ke poli.

Hari ini, aku bertemu pasien luar biasa. Akhir pekan lalu bapak ini datang dengan keluhan tidak bisa buang air kecil. Setelah dilakukan pemeriksaan, nyatalah pembesaran prostatnya. Akhir pekan lalu Agus belum datang. Hanya ada aku dan Komang, sama-sama belum berpengalaman sistostomi. Melihat penderitaan bapak itu, membaca buku, menelpon spesialis bedah, dan membaca bismillah :P akhirnya kuputuskan untuk melakukan sistostomi di kamar operasi, apapun tantangannya. Dan berhasil. Dan puja puji kepada Tuhan keluar dari mulut bapak itu…

Intinya kepercayaan diri. Keteguhan hati untuk mantap melakukan sesuatu..tindakan, keputusan, pilihan hidup. Percaya pada diri sendiri dapat mengalahkan semua ragu, gamang, rasa bersalah, dan mencegah efek kebodohan yang mungkin timbul.

Dia Maha Tahu..seluruh ucapan, kata hati, perbuatan kita berasal dari-Nya. Alangkah tidak mungkinnya Dia memberikan persoalan kepada kita yang tidak dapat kita pecahkan. Semangat!

dokter cinta

May 23rd, 2008 by joschen

Hehehe…melihat judulnya pasti sudah mulai mual-mual deh..saya belum menemukan kalimat yang cukup mewakili apa yang mau saya tulis tapi tidak norak juga.

Kami para dokter bisa dibilang berada dalam posisi yang sulit. Setiap hari berhadapan dengan pasien dengan empati, dan harus berhati-hati tidak sampai timbul simpati kepada pasien. Hampir setiap hari juga kami berhadapan dengan kematian. Boleh dibilang perasaan hati kami sebagai manusia cukup terobok-obok jika bolak-balik dihadapkan dengan kegembiraan dan kesedihan di saat yang hampir bersamaan. Saya bekerja di sebuah rumah sakit umum yang masih minim dokter. Sehari-hari saya bekerja di manajemen rumah sakit, dan beberapa kali dalam seminggu saya berjaga di unit gawat darurat, sambil menyambi visite pasien di bangsal atau menggantikan sejawat di poliklinik. Rumah saya hanya berjarak 20 langkah dari pintu belakang rumah sakit. Jadi bisa dibayangkan lingkaran hidup saya hanya dalam radius 5 hektar lahan rumah sakit ini, dari jam 8 sampai jam 2 siang. Dalam sehari saya memiliki waktu 6 jam untuk mendiagnosa, merawat dan memberikan terapi pada bermacam-macam pasien (dan keluarganya), sambil berputar otak mengurus hal-hal manajemen rumah sakit. Dimaki-maki keluarga pasien, diteriaki, ditangisi, dipuji, diberikan terima kasih, saya sudah mengalami semuanya. Rasa lelah hati ini lebih sering timbul daripada lelah fisik.

Ketika saya pulang ke rumah, seringnya diatas jam 3 sore, saya harus melewati bangsal-bangsal untuk sampai di rumah. Angin sudah sepoi-sepoi pada jam segitu, walaupun matahari Maumere masih menyengat dengan teriknya. Saya melihat rumah kecil yang saya tinggali bersama sejawat, dokter lulusan Solo. Rumah itu sederhana sekali. Sebuah ruang tamu dengan sofa rotan di ruang tengahnya, 2 kamar masing-masing untuk saya dan teman saya, sebuah kamar mandi dan sebuah daput. Mungkin termasuk RSS ( rumah sangat sederhana ). Di depan rumah terparkir motor merah tahun 1996 yang sudah berulang kali saya bawa ke bengkel karena terus-menerus rewel, tapi masih saya sayangi sekali, karena berkat dia saya bisa keliling di kota untuk mencari warung makan atau sekedar mencari angin dan melihat keadaan sekitar. Suatu kebiasaan yang harus dikurangi beberapa waktu ke depan, lantaran harga jual bensin yang mulai naik. Terakhir saya membeli 1 liter di pinggiran jalan masih 6ribu, sekarang sudah 10ribu.

Terkadang di sore hari saya duduk di ubin teras depan rumah dengan secangkir kopi dan sepotong langit biru di hadapan saya. Seringkali saya berpikir, apa yang saya cari disini. Apa artinya berbulan-bulan meyakinkan orang tua (ayah) saya bahwa saya perlu pergi dari kota besar itu untuk bekerja disini. Dan semakin saya sering berpikir, saya semakin yakin bahwa saya mencintai kota ini. Di balik ketidakpuasan, amarah, dan protes masyarakat di koran tentang rumah sakit kami, mereka membutuhkan kami. Sejawat kami saling membutuhkan. 19 dokter untuk mengurusi 200 pasien bangsal,puluhan pasien gawat darurat dan ratusan pasien poliklinik…ya, kami saling membutuhkan dan pasien membutuhkan kami.

Ketika saya berjanji kepada diri sendiri untuk kembali kesini di tahun-tahun mendatang, saya tercenung…ini berarti saya akan meninggalkan “hidup” saya di kota besar itu. Meninggalkan ayah yang baru akan menikahkan anak pertamanya, ibu yang hanya pergi pesiar dari rumah ketika saya mengantarnya, kakak yang protektif saking sayangnya, adik yang kerap saya rindukan. Rumah kami, hiruk pikuk kota, hari-hari berpeluh mengantri kendaraan umum, kehidupan malam. Semua akan berganti ke atmosfer kota kecil di sebuah pulau. Haruskah cinta saya terbagi?

Sejawat saya wong Solo itu sudah menikah, tapi suaminya ditinggal di Jakarta dan belum bisa menyusul ke pulau ini. Saya belum menikah, namun hati saya sudah tertambat jauh-jauh hari kepada seseorang. Di umur sekian ini, dan diantara sekitar 30 sejawat se-kabupaten, saya masih termasuk dalam kelompok mayoritas; petualang muda yang masih lajang (red:senior saya pernah berkata hanya ada 2 kelompok dokter yang mau bekerja di pulau ini; petualang atau orang gila).

Cinta bagi kami mesti terbagi antara keluarga dan profesi, dan keduanya mesti terus sama-sama dipupuk demi ketenangan batin. Kami membutuhkan orang-orang disekitar kami yang mengerti dan mendukung bahwa seringkali profesi kami menuntut emosi dan perhatian lebih. Bahwa kami sejawat adalah saudara sekandung dalam sumpah Hipokrates walaupun terkadang gerak gerik kami mencurigakan. Yakinlah dalam hati, walaupun kami terlihat tidak memiliki waktu untuk kalian; kami tahu kapan, kemana dan kepada siapa kami harus pulang :)

typershark

November 30th, 2007 by joschen

aku suka mengetik, menulis kata-kata dalam kertas atau layar monitor. Seharusnya diikuti dengan penuhnya ide yang mau dituangkan, tapi lebih sering aku hanya terdiam, jari-jariku mandeg mogok bergerak. Untung ada typershark.

29-09-07

October 1st, 2007 by joschen

Hari sabtu kemaren g diajak pergi liat Maliq n D’essentials.I was so excited lah, since d last time pergi ke acara gitu2 kan last year ke Java Jazz. Ya sud lah, setelah mengurus birokrasi gini gitu, pergi sama bang Indra dan temen2nya ber-4.

G pikir itu konsernya Maliq, ternyata acara Femme apa gitu, sponsornya telkomsel…..MCnya pun si bekti dan olga, which gokil abis!! Entah mereka pake script atau gak, tapi g rasa enggak sih, abisnya makin malem makin ancur ahahahhaha.. Kata bang Indra si Olga kayak nge-fly gitu make obat, abis gak ada malunya sama skali, dan memang keliatan gak ada beban. Olga yg polos…tapi porno berat…But anyway, mereka menghibur sih setelah opening act Zeke&The Popo yg uaneh bin ajaib..

Abis tu ada maliq!!!  walopun sudah around 10 pm when they started performing, tapi OK banget ;)  G inget waktu maliq performed di Java Jazz’05, masih cupu banget dibanding 2 taon berikutnya, which was last Saturday. Man they rock! Exquisite performance, hip music, scripted choreo but gak maksa, justru eye catching sekali n nice..hehehehe…g seneng banget deh pokoknya. Sayang panggungnya dibikin 3 part;samping kiri, tengah, kanan. Bandnya ada di kiri, jadi all eyes to the left, kesian penonton yg di kanan. Bang Jim yg bawa2 kamera sibuk foto2 sambil gak lupa bergoyang, yeah! Ronny tercampak (bahasa dia begitu) terpisah dari kita, yg masih rada deket2 dirinya hanya g, bang Indra, bang Jim, Devy n Wiwiek. Festival bow, itu juga sudah 80rb. But i tell you, it was all worth it! And even after Maliq kelar trus Glen Fredly muncul dgn aksi yang….how do i put it ya, he’s OK, tapi aransemennya pun terlalu "ambon"….thats how i remember him 2 years ago, and that what happened last Saturday. Lagu2 mellownya OK lah, cuma kan dah ngantuk dan kaki g dah pegellllllllll…jadinya duduk2 saja di tengah kerumunan orang2 yg sebagian masih semangat.

We left at 12, mostly karena sudah lapar heheheh.. akhirnya..that Saturday dimulai dengan makan di lapo, diakhiri dengan nyate di pinggir Sabang… :P

Sehatnya hidupmu nak!

besok, nanti…

July 28th, 2007 by joschen

Saya, 5 tahun lagi

·        Menjadi dokter yang lebih baik dari hari ini

·        Berbaikan dengan Tuhan

·        Dan dengan diri saya sendiri

·        Sedang giat-giatnya sekolah (lagi)

·        Punya uang untuk DP rumah sendiri

·        Memulai dekade ke 3 hidup saya

·        Adalah persona dengan kemampuan komunikasi yang memadai

·        Berbagi hati dengan pasangan hidup

Saya, 3 tahun lagi

·        Berada dalam krisis wanita paruh waktu (bukan paruh baya lho)

·        Punya pemikiran yang teguh

·        Sudah mencicipi asam garam kehidupan di pulau selain Jawa

·        Dan asam garam karir

Saya, tengah tahun ini

·        Di persimpangan jalan hidup

·        Keluar masuk Jakarta, menunggu kesempatan untuk keluar seterusnya

·        Di persimpangan jalan hati

·        Mencicipi rasanya mencari uang sendiri

·        Adalah persona dengan kemampuan komunikasi yang buruk

·        Tidak dapat menjadi diri saya sendiri

Saya, besok

·        Bekerja, bekerja, bekerja

·        Lelah fisik dan hati

·        Akan terus berjalan dalam awan mendung ini

·        Mulai menata sebagian hidup saya

·        Gembira dalam keterpojokan

·        Menghela napas untuk bangun besoknya lagi

Women of Silence

June 18th, 2007 by joschen

Women of silence, gentle and strong

Tell me your path, when you first went wrong

Tell me your story, how you’ve coped with your life

Tell me about all the trouble and strife

I see how you’ve coped, with holding the pain

I feel your soul weeping and yet you refrain

From sharing your losses, your grieves and your fears

But you know they multiply over the years

Its time to rethink, reassess how it’s been

And develop a strategy previously unseen

There is a way to heal with heart and great passion

Let go of withholding – that was always your fashion

Nurture yourself and make you whole

Live your life fully and realize your goal

Women of silence, gentle and strong

Find the courage to heal, to sing your heart’s song

Slip and Fall

April 18th, 2007 by joschen

Every once in a while we slip and fall. The feel of fear, will we ever get up? The more we fall, the more we get used to. But the question is, do we get used to accept the falling, or get used to find the way to get back standing, or get used of running away?

I have been on all 3 circumstances. But I must say that they come in orderly, its just the matter of how much time you need in every phase. And the matter of how you deal with your problem, alone or is there somebody else with you.

The first thing I do when some trouble occur is… I run away. Human. I hope that time will freeze, so that I don’t have to face my trouble again tomorrow. I try to think that everything will be ok and when I go to sleep tonight, all my trouble will dissapear. But that don’t happen, ever. Well, occasionally they do dissapear. That means that my trouble = misunderstanding only, and that’s good. What more likely to happen is there is real trouble. Trouble doesn’t go away by the blink of the eye.

After a couple of hours, or days, the second phase begin. I fall. I am such a perfectionist and obsessive person that I think that its all my fault not to be good enough to handle things right. That every bit error could have been avoided. That I have not been as responsible as I should. That I am not good enough. Where did I loose it?

The interphase before I get into the next is what I think to be the best part, the letting go. How?

  1. Talk to your friend. I am not very fond of this method, cause I think that one’s mistake can only be fix with one’s own way.

  2. Go out smoking and poison your lung, but you get a clear head afterwards, so I heard.

  3. Wash it away with drinking. Anything. Tap water, juice, wine, schnaps, anything to wash away.

  4. Take some days off to walk along to beach, or hike mountains. Your favorite places. Hide away, just for temporary.

  5. Weep. As sadly it is, unfortunately this is what we women do best on letting go. And after some research, nevertheless this is totally the best way. No side effects at all. Well, other than a stuffy nose and a pair of raccoon eyes….

  6. And so many other ways, be creative.

Standing up is surely the hardest part. Everyone is a beginner in that matter. But we learn from it. Step by step, either you choose to be slow or quick. It is you who know yourself, so trust the inner you to come forward and fix. There is no guarantee that in the process there will not be another falling, but you are wiser already, so nothing to worry about, you will do just fine.

Days go by and will not await. Troubles come and go, you are not yet human if not have faced one. So get up and go.

how hard can it be?

March 17th, 2007 by joschen

Hospital works…rounds…night shifts…its ended already in such a brief moment, which i wont be forgetting anytime soon. Now that ive finished school, my biggest fear re-appeared. Yes, its my dad’s "Bill" to make me into his successor. He said that i should just take a master degree and carry on his bussiness. WOW…that, really really put my tears into burst… i mean, i did not spend 6 years of hard work just to launch myself into bussiness world. i hate that world.

……….. its devastating. i do respect his bussiness and the way that it had made money for our living. as a member of the family, i surely dont want to lose it. but as myself, i never picture myself behind desk and negotiate. its not who i am.

well, ive got to find a way to tell him nicely that all i want is to grow on my own, to be what i always want to be. a good doctor, to serve, to cure, anytime, anywhere.