Hehehe…melihat judulnya pasti sudah mulai mual-mual deh..saya belum menemukan kalimat yang cukup mewakili apa yang mau saya tulis tapi tidak norak juga.
Kami para dokter bisa dibilang berada dalam posisi yang sulit. Setiap hari berhadapan dengan pasien dengan empati, dan harus berhati-hati tidak sampai timbul simpati kepada pasien. Hampir setiap hari juga kami berhadapan dengan kematian. Boleh dibilang perasaan hati kami sebagai manusia cukup terobok-obok jika bolak-balik dihadapkan dengan kegembiraan dan kesedihan di saat yang hampir bersamaan. Saya bekerja di sebuah rumah sakit umum yang masih minim dokter. Sehari-hari saya bekerja di manajemen rumah sakit, dan beberapa kali dalam seminggu saya berjaga di unit gawat darurat, sambil menyambi visite pasien di bangsal atau menggantikan sejawat di poliklinik. Rumah saya hanya berjarak 20 langkah dari pintu belakang rumah sakit. Jadi bisa dibayangkan lingkaran hidup saya hanya dalam radius 5 hektar lahan rumah sakit ini, dari jam 8 sampai jam 2 siang. Dalam sehari saya memiliki waktu 6 jam untuk mendiagnosa, merawat dan memberikan terapi pada bermacam-macam pasien (dan keluarganya), sambil berputar otak mengurus hal-hal manajemen rumah sakit. Dimaki-maki keluarga pasien, diteriaki, ditangisi, dipuji, diberikan terima kasih, saya sudah mengalami semuanya. Rasa lelah hati ini lebih sering timbul daripada lelah fisik.
Ketika saya pulang ke rumah, seringnya diatas jam 3 sore, saya harus melewati bangsal-bangsal untuk sampai di rumah. Angin sudah sepoi-sepoi pada jam segitu, walaupun matahari Maumere masih menyengat dengan teriknya. Saya melihat rumah kecil yang saya tinggali bersama sejawat, dokter lulusan Solo. Rumah itu sederhana sekali. Sebuah ruang tamu dengan sofa rotan di ruang tengahnya, 2 kamar masing-masing untuk saya dan teman saya, sebuah kamar mandi dan sebuah daput. Mungkin termasuk RSS ( rumah sangat sederhana ). Di depan rumah terparkir motor merah tahun 1996 yang sudah berulang kali saya bawa ke bengkel karena terus-menerus rewel, tapi masih saya sayangi sekali, karena berkat dia saya bisa keliling di kota untuk mencari warung makan atau sekedar mencari angin dan melihat keadaan sekitar. Suatu kebiasaan yang harus dikurangi beberapa waktu ke depan, lantaran harga jual bensin yang mulai naik. Terakhir saya membeli 1 liter di pinggiran jalan masih 6ribu, sekarang sudah 10ribu.
Terkadang di sore hari saya duduk di ubin teras depan rumah dengan secangkir kopi dan sepotong langit biru di hadapan saya. Seringkali saya berpikir, apa yang saya cari disini. Apa artinya berbulan-bulan meyakinkan orang tua (ayah) saya bahwa saya perlu pergi dari kota besar itu untuk bekerja disini. Dan semakin saya sering berpikir, saya semakin yakin bahwa saya mencintai kota ini. Di balik ketidakpuasan, amarah, dan protes masyarakat di koran tentang rumah sakit kami, mereka membutuhkan kami. Sejawat kami saling membutuhkan. 19 dokter untuk mengurusi 200 pasien bangsal,puluhan pasien gawat darurat dan ratusan pasien poliklinik…ya, kami saling membutuhkan dan pasien membutuhkan kami.
Ketika saya berjanji kepada diri sendiri untuk kembali kesini di tahun-tahun mendatang, saya tercenung…ini berarti saya akan meninggalkan “hidup” saya di kota besar itu. Meninggalkan ayah yang baru akan menikahkan anak pertamanya, ibu yang hanya pergi pesiar dari rumah ketika saya mengantarnya, kakak yang protektif saking sayangnya, adik yang kerap saya rindukan. Rumah kami, hiruk pikuk kota, hari-hari berpeluh mengantri kendaraan umum, kehidupan malam. Semua akan berganti ke atmosfer kota kecil di sebuah pulau. Haruskah cinta saya terbagi?
Sejawat saya wong Solo itu sudah menikah, tapi suaminya ditinggal di Jakarta dan belum bisa menyusul ke pulau ini. Saya belum menikah, namun hati saya sudah tertambat jauh-jauh hari kepada seseorang. Di umur sekian ini, dan diantara sekitar 30 sejawat se-kabupaten, saya masih termasuk dalam kelompok mayoritas; petualang muda yang masih lajang (red:senior saya pernah berkata hanya ada 2 kelompok dokter yang mau bekerja di pulau ini; petualang atau orang gila).
Cinta bagi kami mesti terbagi antara keluarga dan profesi, dan keduanya mesti terus sama-sama dipupuk demi ketenangan batin. Kami membutuhkan orang-orang disekitar kami yang mengerti dan mendukung bahwa seringkali profesi kami menuntut emosi dan perhatian lebih. Bahwa kami sejawat adalah saudara sekandung dalam sumpah Hipokrates walaupun terkadang gerak gerik kami mencurigakan. Yakinlah dalam hati, walaupun kami terlihat tidak memiliki waktu untuk kalian; kami tahu kapan, kemana dan kepada siapa kami harus pulang