dan ia bertanya….

" Mengapa engkau mempertahankan mati-matian hidupmu yang begitu singkat dan penuh penderitaan? Apa artinya perjuanganmu itu? "

Orang yang tidak tahu mesti menjawab apa atas pertanyaan ini akan menyerah, tapi orang yang berusaha mencari makna hidupnya, dan merasa Tuhan telah bertindak tidak adil padanya, akan menantang takdirnya sendiri dengan berani. Pada saat itulah api dari langit akan turun menyambarnya - tapi bukan api yang membunuh, melainkan api yang meruntuhkan tembok-tembok lama dan menyingkapkan kepada setiap manusia potensi-potensinya yang sejati. Orang-orang pengecut tidak pernah berani membiarkan hati mereka dibakar api ini; mereka tidak ingin ada perubahan, mereka ingin segala sesuatunya tetap sama, sehingga mereka bisa terus hidup seperti biasa dan berpikir dalam pola yang biasanya juga. Sementara itu, orang-orang pemberani membakar segala yang sudah lama dan meninggalkan segala-galanya - meski harus membayar mahal dengan menanggung penderitaan batin - termasuk Tuhan, dan meneruskan langkah ke depan.

Dan di atas sana, Tuhan pun tersenyum puas, sebab inilah yang Dia kehendaki; Dia ingin setiap orang memikul sendiri tanggung jawab atas hidupnya. Sebab dalam analisis akhir nanti, bukankah Dia telah memberikan anugerah terbesar kepada anak-anakNya : kemampuan untuk memilih dan menentukan tindakan-tindakan mereka.

Lalu orang-orang itu meninggalkannya. Elia tidak punya tenaga untuk berdiri. Setelah pulih dari rasa malunya, ada yang berubah dalam dirinya. Tidak ada lagi keinginan untuk mati atau tetap hidup. Tidak ada yang diinginkannya; tidak ada cinta, tidak ada rasa benci; tidak ada keyakinan.

Leave a Reply