Hanging on a commitment
Ketika kita masih sendiri, kita mengerahkan segala tenaga, usaha dan hati untuk mencari seorang pasangan hidup. Not necesarilly straight looking for a wife or a husband, maybe we’re just looking for an equal companion in our life, a partner to share. And to that matter, kita memiliki kualifikasi masing-masing. Ada yang mencari pria tinggi berbadan tegap, wanita putih berambut panjang, yang punya Mercy, yang pernah sekolah di luar negeri. Apapun itu, masing-masing dari kita punya impian sendiri.
PDKT biasanya menjadi masa yang paling indah ( ini kata kebanyakkan teman saya ), disini justru letak “FUN” dari sebuah hubungan yang baru dimulai. Tarik ulur, saling curi-curi pandang atau sms-an bahkan menelpon atau mengajak jalan bareng. Sampai akhirnya ke tahap “SHARING”. Dan ketika akhirnya sang pria menyatakan perasaannya ( 90% pria aja kok, wanita juga bisa
), dimulailah masa “RELATIONSHIP”.
1 bulan..1 tahun..3 tahun…katanya timing terjadinya kekacauan dan kehancuran sebuah pernikahan ada di tahun-tahun ganjil pertama. Entah benar atau tidak. Karena saya belum menikah, jadi kita skip kata married itu. Although, married or dating, dua-duanya sama-sama butuh komitmen.
So you think you are having the most wonderful time of your life. A perfect partner in crime, a lover, a good kisser, a friend, your soulmate. Nothing could come between you two. Not even your disagreed-mother, your financial situation due to expensive-romantic-dinner for like everyday. You have it all. Romance is now your middle name.
Days go by, same old routinity. One day, you just don’t know how it happens, a new person shows up. OK, this new person is very cool. And out of nowhere, you guys have become friends already. Sharing on casual problems, about the weather or the political situation, whatever. Then you start flirting. You don’t mean to do it because you already have a good relationship with your partner….. right?
The next step is up to you. Question yourself, is that what you really want? What about your so called soulmate?. You wanna go with the flow? Entah yang kita cari itu kesenangan baru, seseorang yang soulmate sejati ( berarti yang dulu kita salah ), atau terpesona oleh gaya berpikirnya yang amat membantu kita dalam troubleshoots.
Mungkin aku pernah merasakan cinta, tapi tak pernah seindah ini
Mungkin aku juga pernah merasakan rindu, tapi tak pernah sedalam ini
Mungkin kamu takkan pernah percaya
Bahwa sesungguhnya aku t’lah terjatuh….
Kuakui aku telah larut….
Larut ke dalam kamu… ( Dewa 19 )
To commit. Real heavy. It takes two to tango.
Lalu apa jadinya, selingkuh? Haram dong? Does that make you a sinner?
Ada teman yang sumbang saran ketika saya mempertanyakan hal ini. Dia bilang, coba yang dipakai logika, bukan perasaan (red:passion). Saya tidak akan bilang selingkuh itu benar atau salah karena bukan dalam konteksnya.
I don’t think we should be worried about having a new friend, AS LONG AS we know where to put ourselves. In the right line that is. Komitmen itu berat. Don’t make one if you are not sure, or plin plan, or plainly kegatelan
November 22nd, 2006 at 8:14 am
Oh, my, god.
this is your best post, EVER!
November 29th, 2006 at 11:29 am
know what, after thinking, u’re getting better at writings, day by day.
several times i have to change my mind, which one is the best ever…
right now, u have the grey ish anatomy…ish on this one. which is good, actually.
u sure u wanna b a doctor? not a writer instead?
December 5th, 2006 at 12:29 am
udah di ujung jalan sih nih, musti belok arah apa ya jadi penulis?
December 6th, 2006 at 4:44 pm
What a subtle way to let me know how I feel